My Profil

Nama : Nanda Ridho Mubaraq

Tempat, tanggal lahir : Bagansiapiapi, 23 Oktober 1991

Alamat : Jl. Utama No. 2 Bagansiapiapi, Riau

Hoby : Sms dan koleksi ZIPPO

About Me : Black skin, short hair, rather tall n I like playing playstation

 

     

 


Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo'akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, 
penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah 
mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. 
Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.

Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. 
Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU.

Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan 
apa yang kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya.

Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, 
cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa.

Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam laut, pasti ia akan membawa seekor ikan. 
Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.

Seandainya kamu dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai 
perasaan cinta dan kasih, dirimu tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekedar canang yang gemericing.

Cinta adalah keabadian ... dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dimiliki.

Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu 
objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan 
meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dahsyatnya cinta.

Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi 
gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan didalam dirinya.

Kamu tidak akan pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. Namun apabila sampai saatnya itu, 
raihlah dengan kedua tanganmu dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya.

Cinta bukanlah kata murah dan lumrah dituturkan dari mulut kemulut tetapi cinta adalah 
anugerah Tuhan yang indah dan suci jika manusia dapat menilai kesuciannya.

Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga memang mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai
 itulah yang sukar diperoleh.

Jika saja kehadiran cinta sekedar untuk mengecewakan, lebih baik cinta itu tak pernah hadir.

Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa mendo'akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta ...

Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.

Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada hayatnya.

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dan bercinta dengan orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia tersebut.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, 
penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat dan kemarahan menjadi rahmat.

Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi lebih menyakitkan adalah 
mencintai seseorang dan kamu tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cintamu kepadanya.

Seandainya kamu ingin mencintai atau memiliki hati seorang gadis, ibaratkanlah seperti menyunting sekuntum mawar merah. Kadangkala kamu mencium harum mawar tersebut, tetapi kadangkala kamu terasa bisa duri mawar itu menusuk jari.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.

Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya. 
Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.

Cintailah seseorang itu atas dasar siapa dia sekarang dan bukan siapa dia sebelumnya. 
Kisah silam tidak perlu diungkit lagi, kiranya kamu benar-benar mencintainya setulus hati.

Hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta PALSU.

Kemungkinan apa yang kamu sayangi atau cintai tersimpan keburukan didalamnya dan kemungkinan 
apa yang kamu benci tersimpan kebaikan didalamnya.

Cinta kepada harta artinya bakhil, cinta kepada perempuan artinya alam, cinta kepada diri artinya bijaksana, 
cinta kepada mati artinya hidup dan cinta kepada Tuhan artinya Takwa.

 

 

Bila Aku adalah Engkau
Bila Esok terus Menanti
Adakah Ruang / Waktu untuk Menyapa
Dan Merasakan yang Kurasakan

Bila Esok adalah awal
Adakah Harapan menjadi milikku
Bila Esok adalah Akhir
Masihkah senyuman kau beri
untukku selalu untukku

Bila Engkau adalah Aku
Bila Cinta terus Merekah
Adakah cara untuk mengungkap
Dan mengisahkan segalanya

Bila hati terus terjaga
pastikan keajaiban
menanti di hadapanmu
Bila janji terus kau genggam
pastikan cahaya jiwamu
takkan redup
dan terus bersinar…
dan terus bersinar

Bila janji terus kau genggam
pastikan cahaya
jiwamu takkan redup
Bila hati terus terjaga
pastikan keajaiban
menanti di hadapanmu

Bila janji terus kau genggam
pastikan cahaya
jiwamu takkan redup
dan terus bersinar… adalah akhir
pastikan cahay jiwamu
takkan redup

dan terus bersinar

 

 

Kenikmatan Gadis Muda Belia

Pada tahun 1994 saya tercatat sebagai siswa baru pada SMUN 2 pada waktu itu sebagai siswa baru, yah.. acara sekolahan biasa saja masuk pagi pulang sekitar jam 14:00 sampai pada akhirnya saya dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di dekat sekolah saya yaitu di SMPN 3.

Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, saya lihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai wajah yang manis banget dan kulit walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus, (sekedar info tinggi saya 165 cm dan umur waktu itu 16 tahun), saya berkata siapa namamu?, dia jawab L—- (edited), setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing, besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya jalan pertama sekaligus cinta pertama saya membuat saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah…, jalan terus dong.

Akhirnya malam harinya sekitar jam 19.00 saya telah berdiri didepan rumahnya sambil mengetuk pagarnya tidak lama setelah itu L—-muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam.
Saya tanya, “Mana ortu kamu…”, dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.
“Oohh jawab saya,” saya tanya lagi “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku dan tanpa disuruhpun dia langsung memeluk dari belakang, penis saya selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan -akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat mendukung, yaitu RGR).

Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan kami langsung pulang ke rumahnya setelah tiba saya lihat rumahnya masih sepi mobil papanya belum datang. Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk!., Papa saya kayaknya belum datang”. Akhirnya setelah menaruh motor saya langsung mengikutinya dari belakang saya langsung melihat pantatnya yang lenggaklenggok berjalan di depanku, saya lihat jam ternyata sudah pukul 21.30, setiba di dalam rumahnya saya lihat tidak ada orang saya bilang “Pembantu kamu mana?”, dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.
“oohh…”, jawab saya.
Saya tanya lagi, “jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?”, dia jawab iya.
“Terus Papa kamu yang bukain siapa…”
“saya…” jawabnya.
“Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih…”, tanya saya. Dia bilang paling cepat juga jam
24.00. (Langsung saja pikiranku ngeres banget)
Saya tanya lagi “Kamu memang mau jadi pacar saya…”.
Dia bilang “Iya…”.
Lalu saya bilang, “kalau gitu sini dong dekat-dekat saya…”, belum sampai pantatnya duduk di kursi sebelahku, langsung saya tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget sekali tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil saya remas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet) diapun mengeluh “Ohh.., oohh sakit”. katanya.

Saya langsung mengulum telinganya sambil berbisik, “Tahan sedikit yah…”, dia cuma mengangguk. Payudaranya saya remas dengan kedua tanganku sambil bibir saya jilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung saya lumat-lumat bibirnya yang agak seksi itu, kamipun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penis saya langsung saya rasakan menegang dengan kerasnya. Saya mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku dibalik celana saya, dia cuma menurut saja, lalu saya suruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, saya langsung mengeluh panjang, “Uuhh…, nikmat sayang”, kata saya. “Teruss…”, dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan muka saya di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya saya jilati payudaranya sambil saya gigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, “aahh…, aahh”. Diapun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya saya langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama saya main cewek baruku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Saya jilat kedua payudaranya sambil saya gigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah. “Aahh…, sakkiitt…”, tapi saya tidak ambil pusing tetap saya gigit dengan keras. Akhirnya diapun langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku.

Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajah saya. Sambil saya memandangi wajahnya yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut. Diapun kembali mendesis, “Ahh…, aahh…”, kemudian saya tarik payudaranya dekat ke wajah saya sambil saya gigit pelan-pelan. Diapun memeluk kepala saya tapi tangannya saya tepiskan. Sekelebat mata saya menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup saya pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi menutup pintu dengan mengendap-endap karena bajunya tetap terangkat sambil memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang bikin hati siapa saja akan lemas melihat payudara yang seperti itu.

Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju saya. Saya pun langsung menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tangan saya tapi tetap dalam keadaan berdiri saya jilati kembali payudaranya. Setelah puas mulut saya pun turun ke perutnya dan tangan saya pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali mengisap puting payudaranya. Tangan sayapun menggosok-gosok selangkangannya langsung saya angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih saya remas-remas liang kewanitaannya dengan terburu buru, dia pun makin keras mendesis, “aahh…, aakkhh… ohh…, nikmat sekali…”, dengan pelan-pelan saya turunkan cdnya sambil saya tunggu reaksinya tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan). Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Sayapun menjilatinya dengan penuh nafsu, diapun makin berteriak, “Aakkhh…, akkhh…, lagi…, lagii..”.

Setelah puas sayapun menyuruhnya duduk di lantai sambil saya membuka kancing celanaku dan saya turunkan sampai lutut terlihatlah CD-ku, saya tuntun tangannya untuk mengelus penis saya yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Diapun mengelusnya terus mulai memegang penis saya. Saya turunkan CD-ku maka penis saya langsung berkelebat keluar hampir mengenai mukanya. Diapun kaget sambil melotot melihat penis saya yang mempunyai ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm) saya menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga seperti dipangut dia menurut saja apa yang saya suruh lakukan. Dengan terburu-buru saya pun melepas semua baju saya dan celana saya kemudian karena dia duduk dilantai sedangkan saya dikursi, saya tuntun penis saya ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Saya suruh untuk membuka mulutnya tapi kayaknya dia ragu-ragu.

Setengah memaksa, saya tarik kepalanya akhirnya penisku masuk juga kedalam mulutnya dengan perlahan dia mulai menjilati penis saya, langsung saya teriak pelan, “Aakkhh…, aakkhh…”, sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penis saya di dalam mulutnya. “aakk…, akk…, nikmat sayyaangg…”. Setelah agak lama akhirnya saya suruh berdiri dan melepaskan CD-nya tapi muncul keraguan di wajahnya sedikit gombal akhirnya CD dan BH-nya dia lepaskan juga maka telanjang bulatlah dia depanku sambil berdiri. Sayapun tak mau ketinggalan saya langsung berdiri dan langsung melepas CD-ya. Saya langsung menubruknya sambil menjilati wajahnya dan tangan saya meremas -remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang, diapun mendesis, “Aahh…, aahh…, aahh…, aahh”, sewaktu tangan kananku saya turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.

Setelah agak lama baru saya sadar bahwa jari saya telah basah. Saya pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan saya siapkan penis saya. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya dari belakang. Saya sodok pelan -pelan tapi tidak maumasuk-masuk saya sodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok tangannyapun berpangku pada tembok sambil mendengar dia mendesis, “Aahh…, ssaayaa..,. ssaayaangg…, kaammuu…”, sayapun terus menyodok dari belakang. Mungkin karena kering penis saya nggak mau masuk-masuk juga saya angkat penis saya lalu saya ludahi tangan saya banyak-banyak dan saya oleskan pada kepala penis saya dan batangnya dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Saya genggam penis saya menuju liang senggamanya kembali. Pelan -pelan saya cari dulu lubangnya begitu saya sentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, “Ahh…, aahh…”, saya tuntun penis saya menuju lubang senggamanya itu tapi saya rasakan baru masuk kepalanya saja diapun langsung menegang tapi saya sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan yang keras saya sodok kuat-kuat lalu saya rasa penis saya seperti menyobek sesuatu maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis, “Ssaakkiitt…”. Saya rasakan penis saya sepertinya dijepit oleh dia keras sekali hingga kejantanan saya terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya. Saya lalu bertahan dalam posisi saya dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata “Tahann.. sayang… cuman sebentar kok…”

Saya memegang kembali payudaranya dari belakang sambil saya remas-remas secara perlahan dan mulut saya menjilati belakangnya lalu lehernya telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulut saya agak lama. Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati ciuman saya dibadan dan remasan tangan saya di payudaranya, “Ahh…, aahh…, ahh…, kamu sayang sama lakukan?” dia berkata sambil melihat kepada saya dengan wajah yang penuh pengharapan. Saya cuma menganggukkan kepala padahal saya lagi sedang menikmati penis saya di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan saya lagi berada di suatu tempat yang dinamakan surga. “Enak sayang?”, kataku. Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, “Aahh…, aahh…” lalu saya mulai bekerja, saya tarik pelan-pelan penis saya lalu saya majukan lagi tarik lagi majukan lagi dia pun makin keras mendesis, “Aahh…, ahh…, ahhkkhh…” akhirnya ketika saya rasakan bahwa dia sudah tidak kesakitan lagi saya pun mengeluar-masukkan penis saya dengan cepat dia pun semakin melenguh menikmati semua yang saya perbuat pada dirinya sambil terus-meremas payudaranya yang besar itu. Dia teriak “Sayaa mauu keeluuarr…”. Sayapun berkata “aahhkkssaayyaanggkkuu…” , saya langsung saja sodok dengan lebih keras lagi sampai -sampai saya rasakan menyentuh dasar dari liang senggamanya tapi saya benar-benar kesetanan tidak peduli lagi dengan suara-suara, “Ahh…, aahh…, ahh…, akkhh…, akkhh…, truss” langsung dia bilang “Sayyaa kkeelluuaarr…, akkhh…, akhh…”, tiba-tiba dia mau jatuh tapi saya tahan dengan tangan saya. Saya pegangi pinggulnya dengan kedua tangan saya sambil saya kocok penis saya lebih cepat lagi, “Akkhh…, akkhh…, ssaayyaa mauu…, kkeelluuaarr…, akkhh…”, pegangan saya di pinggulnya saya lepaskan dan langsung saja dia terjatuh terkulai lemas.

Dari penis saya menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, “Ccroott…, croott.., ccrroott…, akkhh…, akkhh…”, saya melihat air mani saya membasahi sebagian tubuhnya dan rambutnya, “Akhh…, thanks sayangkuu…”, sambil berjongkok saya cium pipinya sambil saya suruh jilat lagi penisku. Diapun menjilatinya sampai bersih. Setelah itu saya bilang pakai pakaian kamu dengan malas dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya kembali.

Setelah kami berdua selesai saya mengecup bibirnya sambil berkata, “Saya pulang dulu yah sampai besok sayang…!”. Dia cuma mengangguk tidak berkata-kata lagi mungkin lemas mungkin nyesal tidak tahu ahh. Saya lihat jam saya sudah menunjukkan jam 23.35, saya pulang dengan sejuta kenikmatan.

 

 

Cerita Dewasa + Video Bokep – Gadis Namanya

Yah nama itu sekarang tinggal jadi kenanganku yang indah entah kapan kita bisa ketemu lagi semenjak kepindahannya April ini ke luar kota nunjauh di sana.
Kami kenal di FS, dan mulai sering berkirim pesan di fasilitas FS tersebut, mulai dari status ku yang complicate dan diapun ternyata janda beranak satu ditinggal oleh laki laki yang lari kepelukan wanita kaya, kejadian itu sudah 6 thn berlalu semenjak ia hamil 2 bulan, dan semenjak itu dia tidak punya laki2 yang dekat dihatinya, kecuali dengan perkenalan kita Gadis merasa klob dan senang berbagi melalui FS ini.
Setelah sebulan berkenalan, kamipun bersepakat untuk ketemu di sebuah pertokoan di jakarta selatan, diapun memperkenalkan putrinya berumur 6 tahun, dan pertemuan pertemuan selanjutnya hanya melalui sms dan telepon karena posisi kita berjauhan, aku di Cilegon dan dia di Cireundeu.
Selama kurang lebih 3 bulan masa perkenalan kita, banyak cerita, keluh kesah, dan segala permasalahannya yang sering diceritakan kepadaku, dan akupun memberikan masukan yang sangat membantu dan memberikan awan cerah menurutnya
Dan suatu ketika; “a… pernah berpikiran untuk memaduku, menjadikanku istri kedua? Aku siap a, aku rela, aku ikhlas, aku tentram di samping aa” itu kata – kata yang menyambarku di sebuah pembicaraan via tlp di suatu siang…. Dengan alasan tidak bisa dibicarakan di telpon, kitapun sepakat untuk bertemu di Bandung, dan kebetulan aku ada meeting di Bandung, diapun ada urusan ijazah di bandung.
Semenjak pembicaraan itu, saat tlp – tlp selanjutnya aku selalu menggodanya untuk menggiring pikirannya tentang rencana kepergian kita ke Bandung; “kalo kita nginep berdua di Bandung trus terjadi hal – hal yang diinginkan, gak apa apa ya, kan Gadis tau, aku udah –puasa- cukup lama” ucapku, “wah jangan aa, tolong jaga aku, jangan goda aku, aku gak kuat aa, udah sekian lama gak di sentuh laki laki, please…” pintanya memelas, “kita liat nanti ya” jawabku lagi.
Kemudian minggu depannya kamipun bertemu di sebuah mall di pusat jakarta, membeli perbekalan untuk di perjalanan dan langsung cabut ke Bandung.
Diperjalanan menuju bandung aku bahagia sekali karena Gadis begitu memanjakan aku dengan melayani kebutuhanku, mulai dari mengambilkan kemilan, menghidupkan korek untuk rokokku, sampai memijit tanganku yang pegal, semua dilakukan dengan mesra yang menyentuh hasrat ku untuk menciumnya, tapi sekali lagi aku takut untuk bertindak yang bukan – bukan, karena aku sangat menghormati dan menyayangi dia, hanya tinggal angan – angun ku yang tiba tiba ngeres karena sentuhannya.
Tapi aku Heran, setiap kali mencuri pandang melihat wajah Gadis, ada kemuraman, kekurangan sesuatu atau entah apa lah dibalik senyum tawa canda disepanjang diperjalanan.
Sesampainya di Bandung, kamipun mencari penginapan yang tenang, “2 bad yang misah ya aa’, “kenapa?”, “aku takut terjadi….” Iya aku usahakan.
Di resepsionis aku minta 1 bad besar (he he he he)
“kok bad besar a. aku dimana?” tanya Gadis ketika sampai dikamar, “udah bareng aja, kalo engga’ aku di bawah deh” sergahku menghilangkan kecurigaannya..
Beberapa menit kemudian aku mandi dan keluar langsung menggunakan pakaian lengkap, takut dia curiga.
Dan ketika dia mandipun begitu, hanya saja pada saat setelah mandi tiba – tiba dia menyeruak dari balik pintu, “a, tolong tasku di meja” ketika aku ambilkan, terlihat siluet tubuhnya dibalik pintu yang terpantul dari kaca di dalam kamar mandinya, aku terperanjat dan berfikir; “ampun sexy sekali gadis, walaupun dilihat dari bayangan kaca”.
Setelah selesai berbenah, aku coba sibukkan kegiatan ku dengan penyiapan laporan untuk meeting besok, sedangkan Gadis mengunjungi teman2nya untuk say hallo. Sayangnya selama aku bekerja, tapi tak satupun laporan yang aku hasilkan, sedari tadi pikiranku melayang ke siluet kaca tadi, dan itupula yang membuat “adikku” bangun dan meronta ronta. Berkali kali aku coba hilangkan pikiran ku tentang hal itu, tapi hilang sudah akal sehatku.
Tiba – tiba pintu kamar diketuk, “a, aku pulang” pintu pun aku buka dan langsung ku peluk dia….
“ada apa a, kok gini…”, “gak apa apa” jawabku, “kangen aja.”
Setelah beristirahat dengan alasan capek ngerjain laporan untuk besok, “aku pijitin ya a” dan langsung tangannya menyentuh bahuku, rasa tentram dan hangat menjalar di tubuhku, aku bingung, kenapa perasaan santai ini tidak membuat “adikku” tenang, malah makin meronta kuat.
“dis, ganti baju dulu gih, kan abis jalan, kotor” kataku, sejurus kemudian ia sudah melangkah ke kamar mandi dengan pakaian tidur di tangan, “jangan ganti di kamar mandi, basah nanti celana jeansnya, aku balik kanan deh, gadis ganti di kamar aja” kataku tenang sambil membalikkan badan menghilangkan keraguan hati gadis.
Sejurus kemudian dia sudah ada di sampingku dengan daster leher rendah dan lengkap dengan bra dan CD.
“ughhhhh….” Kataku sambil menikmati sentuhan lembut gadis, dan tak sengaja dadanya yang cukup besar menyentuh punggungku.
Karena tidak tertahankan, aku membalikkan badanku dan langsung memeluk Gadis, napasnya yang tercekat dan kata – kata yang tak mampu keluar dari mulutnya karena aku mencium gadis begitu buasnya, tak lama berselang gadispun akhirnya membalas ciumanku dengan mesra, dan posisi diapun diatas menghimpitku.
Tak terasa dadanya mulai mengeras semakin menyentuh dada dan kelaki lakianku, tangankupun merayap menyusup kebalik dasternya untuk menyentuh buah dadanya yang semakin kencang. “Agrhhhh…..” terpekik pelan dan mencoba menghindar dari sentuhan tanganku namun tak kuasa karena kami sudah semakin menikmati pemanasan awal ini.
Akupun coba membuka kaitan branya dengan satu tangan dan berhasil, diapun melotot tanpa mampu menolak karena sejurus kemudian mulutku sudah menciumi wangi payudaranya yang montok itu, “ampun sudah punya satu anak, tapi masih kencang juga dadanya”
“Ah ugh sssh….” Semakin meracau mulutnya karena sentuhan bibirku di payudaranya semakin membangkitkan hasrat Gadis, akupun menukar posisinya dibawah dan aku menindih….
Perlahan lahan aku mengambil kesempatan untuk melepas celana boxerku dan lansung membuka paha gadis. Sengaja kusentuhkan “adikku” ke permukaan celana dalamnya yang tipis, aku berharap menambah sensasi untuknya, tanpa terburu buru membuka celana dalamnya, takut dia kaget dan membuyarkan konsentrasinya, pinggulku sengaja kugoyangkan agar, “adikku” menyentuh lembut permukaan vagina Gadis, tak berapa lama, terasa di ujung “kepala jamurku” ada sesuatu yang basah dan aku tau gadis makin terangsang dan mulai mengeluarkan pelicin dan secara tidak langsung menyatakan “siap”, aku pelan pelan turun sambil menciumi perut dan paha bagian dalamnya, gadispun makin mendesis dan menyentuh lembut kepalaku mengisyaratkan untuk cepat menyentuh bibir vaginanya yang makin basah.
Ketika sampai di antara dua pahanya, akupun berusaha semakin memperlebar bukaan pahanya agar aku leluasa untuk meciumi vaginanya yang harum khas, “ternyata dia tetap menjaga kewanitaanya dengan baik” pikirku.
Setelah kujilati dengan mesra, semakin lama semakin banyak ‘ lendirnya keluar, makin bersemangat aku, dan gadispun mulai membanting banting badannya karena tidak tahan menerima penjelajahan lidahku di sekitar liang vaginanya dan ketika klitorisnya kusentuh; “ughhhh asssshhh ampun a” jeritnya, sambil menekan kepalaku untuk semakin terbanam diantara selangkangannya, “ooohhh a, aku gak tahaaaaan a, ampun a, jangan siksa aku please……”
“agrhhhhh a, ampuuuun, please jangan siksa aku….” Gadispun mengejang untuk beberapa menit, selagi dia semakin mengejang, akupun semakin kuat menciumi dan menjelajahi klitorisnya karena aku tau, Gadis hampir orgasme….
Satu hentakan kuat keatas, tiba – tiba punggungku perih karena kuku Gadis menancap dipunggungku dan badannyapun mengejang kuat, dan diapun melemas tak berdaya. Raut wajah mukanya pasrah dengan apa yang sedang aku lakukan, napasnyapun tersengal sengal menahan birahi yang sedang bergejolak bersamaan dengan orgasme yang sedang Gadis alami.
Disela sela kepasrahannya;” a, makasih, belum pernah aku merasakan ini…..” sambil mengucurkan air mata kebahagiaan dan kepuasan yang terpancar di wajah gadis.
Pelan pelan aku merangkak di sampingnya sambil menahan hasratku, aku sempat berfikir, kalo aku langsung hajar, pasti kaget, aku tidak ingin dia jadi berfikiran macem macem.
Pelan pelan walaupun dengan menahan gejolak “adik” yang tidak mau kompromi, ku peluk mesra Gadis, dan Gadis pun bersandar di dadaku. Sambil beristirahat kucoba sentuh dadanya yang masih mengencang padat, “aa belum keluar ya, Gadis harus gimana ya…” kataku, “santai aja, yang penting Gadis nyaman…”, “tapi please jangan dimasukin ya….”
Aku mulai bergerilya lagi dengan mencium bibirnya yang tipis dan turun kelehernya yang tak luput kuciumi. “Ssshhhh….” Desahnya, akupun turun ke dadanya yang mulai mengencang kembali, tak berapa lama aku coba sentuh liang kemaluannya, ternyata sudah basah lagi dengan lendirnya yang wangi, sambil menciumi dadanya aku telentangkan gadis dan kubuka belahan kakinya sehingga posisi misionaris aku dapatkan, ketika “adik” menyentuh pelan vaginanya, “ssshhhh….” Kembali terdengar dan pelukannya semakin erat, aku coba menggoyangkan pantatku agar “adiku” menyentuh lembut liang vagina Gadis, “ssshhhh…. a, enak a, aku gak tahan a, jangan siksa lagi aku dengan rasa ini, please…..” pelan pelan kepala jamurku ku masukkan kedalam liang vagina Gadis, matanyapun merem melek, tangannya menahan badanku tanda supaya tidak memasukkan punyaku keliang gadis;”…perih a’ pelan ya….. sakit….. ughhhhh, a….
Aku pun terpaksa menahan setengah, agar masuknya tidak terlalu terburu buru dan membuat gadis sakit. Akupun memaju mundurkan untuk beberapa menit agar vagina Gadis merasa terbiasa lagi, akupun menikmati “kepala adikku” di peluk erat, dan semakin membuatku harus menahan libido yang sudah di ubun ubun ini supaya tidak meledak. Setelah beberapa menit, gadis mulai merasa nyaman dan menikmati masuk keluarnya goyanganku, akupun menambah kedalaman “adikku” agar berenang di dalam vagina Gadis, diapun melotot tanda kaget,”a pelan ya, besar sekali, aku kepenuhan rasanya….”katanya. akupun harus bersabar kembali menarik ulur “adikku” kira kira tiga perempatnya, setelah sekian menit, diapun mulai mengencangkan badannya dan “aghhhh a…. aku gak kuat, aku pengen keluar a….” please jangan buat aku gak tahan….. rintihnya sambil semakin mengencangkan pagutan tangannya dibadanku, dan diapun menggelinjang gak tertahankan, tiba tiba kakinya di silangkan kepunggungku, dan serta merta terbenam lah seluruh “adikku” di dalam vagina Gadis; “aghhhh a, ampun aku gak tahan…. Saat itupun aku merasakan kembali orgasmenya untuk yang kesekian kalinya dan aku pun mempercepat goyanganku diatas, Gadispun terbanting banting badannya menahan kenikmatan ini, “adikku”pun terasa sekali dipijit pijit oleh liang vagina Gadis, setelah beberapa menit, Gadispun akhirnya tak berdaya, hanya racauan mulutnya tanda kenikmatan saja yang ada, akupun semakin bersemangat memompa. Tiba tiba “ada remasan yang kuat lagi di liang vagina Gadis yang kurasakan ketika ku lihat keselangkangan Gadis, tarikan pinggangku membuat bibir vagina gadis tertarik dan menimbulkan sensasi yang membuatku tidak dapat menahan air maniku yang mulai ingin muncrat, nadiku terasa berdenyut kencang membuat Gadis terpacu lagi untuk orgasme, diapun makin meracau sampai pada menit berikutnya kakinya kembali merangkul pinggangku, dan “…a, aku keluar lagi, teruuuus a, terusss… aghhhhh bersamaan dengan itu muncrat pula air maniku, untuk beberapa kali semprotan yang kerasa dan langsung membasahi liang kewanitaan Gadis, akupun merasa seluruh tenaga dan otot ku dihisap kedalam vagina Gadis, dan setelah itu aku biarkan “adikku” terbenam tenang dalam vagina Gadis dan kitapun berpelukan, “ssshhh….” Racauan Gadis karena merasakan denyutan nadi “adik” ku di dalam Vaginanya.
Untuk sekian lama masih kudiamkan “adik”ku terbenam di vagina yang masih hangat, terasa olehku lelehan air mani bercampur lendir kenikmatan Gadis yang keluar dari liang vagina Gadis.
“a…. kenapa kita begini ya, Gadis malu” ucapnya, dan tidak lama kemudian kamipun tertidur pulas.
Ketika menjelang subuh, dinginnya udara Bandung merayapi tubuh kami yang tanpa selimut, akupun bergeser untuk memeluk Gadis, sekecap ia bangun untuk merapatkan tubuhnya dipelukanku, tanpa sengaja, “adik”ku bangun karena tersentuh belayain lembut sentuhan tangan Gadis, “uuughhh….” Lirihku, dan seakan iapun mengerti dan semakin menyentuh lembut “adik”ku, entah berapa lama, tiba – tiba ia melepaskan sentuhannya karena terkesiap dengan kembali bangunnya “adik”ku, “a… kok jadi besar lagi?”, “Gadis sih, jadi bangun deh” ucapku.
“a… nanti lagi ya, agak perih nih, maaf udah lama tidak terbiasa lagi”, iya, santai aja, kapan kapan juga boleh” jawabku dengan merajuk, iapun tersenyum sambil mencubit mesra dadaku.
Kucium mesra keningnya, dan akupun mencium bibir hangatnya dan terus menjajah ke sekitar leher, “aku sayang Gadis” ucapku sambil mencium kuping dan sekitarnya, “sshhh…” kembali dia mendesah. Ciuman ini kulanjutkan turun ke dadanya yang montok dan berkonsentrasi disekitar putting susunya yang berwarna Pink, lagi – lagi “sshhh…. Keluar dari bibirnya yang mungil karena menahan sensasi dan rangsangan yang menjalar ditubuhnya karena kuciumi putting susunya, kumainkan dengan ujung lidahku, dengan meracaunya Gadis yang semakin keras suaranya, menandakan dia mulai terangsang hebat, dengan tidak malu – malu lagi, dia mulai menyentuh lembut “adik”ku dan kali ini sampai pada buah zakarku, “uuuughhh…..” desahku, begitu lembut tangannya sehingga makin mendidihkan gejolak nafsuku yang sudah tidak tertahankan, akupun langsung bergeser kembali keselangkangan Gadis untuk menciumi dan menjelajahi bibir vagina yang mulai mengeluarkan lendir kenikmatan yang semakin banyak, ketika aku mulai menyentuh klitorisnya dengan hidungku dan liang Vaginanya kujelajahi dengan ujung lidahku, “agrrhhhhh, ampun a… Gadis gak kuat, please….. jangan lama lama a…
Diapun semakin menjepitkan pahanya dan tangannya semakin menekan kepalaku, “…. Sshhh…. Ughhhh…. Aaaaa, aku keluar…..” bersamaan dengan itu vagina Gadis banjir dengan lendir kenikmatan yang keluar bersamaan dengan orgasmenya, akupun menjilati dan menelan seluruh lendir itu.
Setelah kejangannya mereda, pahanya mulai mengendur, kesempatan ini aku gunakan untuk menempelkan “adik”ku ke bibir vaginanya, aku takut kalo aku paksa masuk, Gadis akan menjadi kesakitan, “…. A, pelan ya” pintanya memelas, akupun kembali menyentuhkan “adik”ku ke Vaginanya. Ketika rautnya sudah tenang, aku perlahan lahan memasukkan setengah “adik”ku keliang vaginanya yang basah kembali dan menggoyangkan pinggulku, “ughhh…. Ssshhh… kembali Gadis meracau nikmat, semakin lama racauannya semakin keras dan badannya mulai mengejang, “….uuugghhhh, aghhhh, ampun a….” Gadis memekik, karena tiba – tiba dengan satu hentakan keras, aku masukkan seluruh batang “adik”ku kedalam Vaginanya, iapun berpegangan dibadanku kuat sekali sambil menahan tekanan – tekanan yang semakin kuat kulancarkan, dalam sekian lama penetrasiku, entah berapa kali Gadis orgasme, lemas, tak berdaya menahan kebuasanku karena sejak dari sore aku tahan.
Setelah bosan posisi misionaris, “kenapa berhenti a, aku tanggung” pinta Gadis, kita coba dari belakang yuk, diapun pasrah merubah posisi membelakangiku dan langsung kembali kuhujamkan “adik”ku, “ughhh… agrhhhh, oohhhh, a, aku gak tahan, sambil memutar mutar pinggulnya menahan nikmat, membuat “adik”ku menggelembung membesar, rasa ingin memuntahkan “lahar” panas yang siap meledak, “…. Ugh dis, aku keluar ya….. oghhh, “bareng a….. ughhhhh pada saat kedutan di liang vaginanya makin keras menjepit, “crot, crot, crot …”entah berapa kali, muntah lah lahar panas itu menyemprot liang kenikmatan Gadis, “uuuugggghhhh aaaaaa…. Aku…” pekik nya, gadis pun mengejang kuat dan makin menjepit “adik”ku dan tak sempat ia ucapkan, untuk kesekian kalinya Gadis orgasme….
Kami pun ambruk kelelahan dengan posisi tertelungkup…..
Pagi hari kami sama – sama mandi dan saling membersihkan sisa sisa tadi malam, setelah itu, tanpa ku minta, ia dengan sigapnya menyiapkan pakaian kerjaku yang ada di tas, merapikan seluruh barang barang bawaan ku, dalam sekejap semua sudah rapi dan kitapun siap berangkat.
Tampak tabir keceriaan yang terpancarkan dari muka Gadis, senyum yang mengembang, ahhh ini kah namanya kebahagian, hadiah dari hubungan kasih sayang yang kami wujudkan tadi malam…?
Setelah sekian lama aku dan dia belum pernah lagi menikmati indahnya sentuhan dalam sebuah aktifitas yang membawa perasaan kita melayang jauh….
Entah lah….

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita Dewasa : Lia, Sahabatku Yang Imut. Kata orang, sahabatan antara cewek dan cowok adalah sesuatu yang enggak mungkin. Hmm… mungkin ada benarnya kalo melihat persahabatan aku dengan Lia, seorang gadis imut teman sekelasku sewaktu kuliah.

Aku mulai bersahabat dengan Lia sejak aku masuk kuliah. sampai lulus kuliahpun kami tetap bersahabat. Hmm… dalam hati kecilku sebenarnya aku ingin lebih dari sahabat. Aku sangat menyukai Lia, gadis imut yang selalu ceria. Gadis yang tidak pernah melepaskan seyum dan tawa dari bibirnya, gadis yang selalu mewarnai mimpi indahku.

Tapi sial, Lia selalu mengenalkan aku ketemannya sebagai sahabat. Dan lebih parahnya lagi, begitu semangatnya dia bercerita pada orang-orang kalo kami berdua tuh seperti kakak adik. Hal itu yang selalu menghalangi aku untuk menyatakan kalau aku suka padanya, bahkan lebih, aku jatuh cinta padanya.

Kejadian ini terjadi saat kami baru selesai wisuda dan sama-sama berusaha untuk mencari pekerjaan. Suatu saat ada panggilan kerja di jakarta yang aku dan Lia ikut dalam panggilan itu. Oh iya, aku belum bilang kalau aku tetap tinggal dibandung setelah wisuda.

Setelah menjalani test kerja, aku mengajak Lia kerumahku sebentar sebelum kembali ke bandung. Iya, orangtuaku tinggal dijakarta, tapi aku lebih memilih tinggal dibandung setelah wisuda karena aku lebih suka tinggal dibandung, relatif gak ada macet, dan tentu saja ada Lia yang sangat aku sayangi di bandung. Aku mengajaknya kerumahku untuk sekedar berganti baju dan beristirahat sebelum kembali ke bandung.

Sesampainya dirumahku, aku menemui rumahku kosong. “Wah, pada kemana nih ??” kataku ke Lia. “Telepon aja yan !” kata Lia padaku.

Aku mendial no hp ibuku dari ponselku. “Ma.. Ada dimana ?” tanyaku lewat telpon saat sambungannya terhubung. “Loh kamu pulang ? Mama sama papa jenguk adikmu” jawab mamaku lewat telpon. Ternyata orangtuaku menjenguk adikku yang kuliah di kota lain. “Kalo kamu mo masuk minta kunci aja sama tante erni, mama titipin kedia” suruh ibuku untuk meminta kunci ke tante erni tetangga sebelah rumahku. “Ya udah deh, aku ambil ke tante erni”. Aku menutup telepon kemudian beranjak kerumah tante erni.

Setelah membuka rumah, aku mengajak Lia masuk.

“Lia, kamu ganti baju aja dulu, aku mau ke kamarku sebentar” kataku ke Lia sambil menunjukkan kamar kecil kedia. “Oke deh” jawabnya sambil membawa tas plastik berisi kaos ganti.

Aku masuk kekamarku dan mengganti baju disana. Saat aku keluar, ternyata Lia sudah selesai mengganti baju. Dia menonton tv di ruang keluarga.

Lia mengganti bajunya dengan kaus putih favoritnya. Sebenernya aku udah pernah ngomentari dia supaya jangan pake kaus itu lagi. Soalnya kaus itu agak-agak semi transparan. Untuk deskripsinya, kaus putih itu ada bagian yang bahannya jarang, seperti benangnya diambil. Bagian yang transparan itu membentuk garis-garis miring. Buat yang melihat kalo agak jeli dikit bisa melihat bra dan kulit mulusnya. Dan yang membuat aku gak suka, kaus kecil itu ngebentuk banget bodynya. Tubuh Lia memang kecil imut, tapi proporsional. Dadanya yang bulat terlihat besar dibandingkan badannya yang kecil.

Untuk roknya, dia masih memakai rok tadi. He..he..he.. aku selalu komentarin dia kalo pake rok, soalnya dengan memakai rok pantatnya yang bulat itu terlihat semakin besar . Aku selalu berfikir dengan pinggul dan pantat begitu, pasti dia gak akan mengalami kesulitan kalo punya anak nanti.

“Lagi nonton apa ?” tanyaku ke Lia yang duduk disofa ruang keluarga. “He..he..he.. gosip !” tawa renyahnya keluar saat menjawabku.

Aku duduk disebelahnya ikut menonton. Lia mengomentari gosip-gosip yang diberitain, aku cuma ketawa-ketawa aja ngeliat dia yang semangat banget mengomentari. Aku gak tau bagaimana mulanya, tangan kiriku menggengam tangan kanannya sewaktu menonton, seiring itu kami jadi jarang berbicara, entah apa yang ada didalam pikirannya.

“Yan, aku kekamar kecil dulu ya” katanya dan segera bangkit. Aku mengangguk dan pegangan tangan kami terlepas. Saat dia ke belakang aku menarik nafas panjang menahan gejolak hatiku.

Sekembalinya dari kamar kecil, Lia kembali duduk disebelahku. Entah kenapa dia kembali menggenggam tanganku. Aku cuma tersenyum kepadanya. Suasana kembali hening, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Aku mengelus tangannya, dia cuma tersenyum. Cukup lama aku mengelus tangan dan lengannya, akhirnya dia merebahkan kepalanya ke pundakku. Aku melingkarkan tanganku ketubuhnya, badannya jadi bersandar didadaku.

“Rambut kamu bagus” kataku memecah keheningan. Dia cuma terseyum. Aku mengelus-elus rambut panjangnya yang harum itu. Entah apa yang ada dipikiranku, aku mencium kepalanya. Dia menoleh kepadaku tersenyum, kemudian kembali menonton tv.

Keberanianku makin banyak, aku mencium kepalanya sekali lagi. Dia menoleh kearahku, kali ini aku tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku mencium keningnya.

Lia menggeser badannya, mendekatkan mukanya ke mukaku. Melihat itu, tanpa ragu-ragu aku mengecup bibirnya. Hmm.. ternyata satu kecupan tidak cukup, aku memagut bibirnya, Lia membalas ciumanku. Aku tambah semangat, apalagi Lia membuka mulutnya, sehingga aku bisa menyedot bibir bawahnya. Sedotanku dibalas dengan sedotannya kebibir atasku.

Ciuman kami makin panas saat lidahku bermain didalam mulutnya. Ternyata dia juga membalas dengan memainkan lidahnya. “Clop..clop..clop…” suara sedotan-sedotan ciuman kami. Aku mendorong tubuh Lia untuk rebahan di sofa besar ini.

Posisi kami sekarang lebih enak, Lia terlentang dan aku diatasnya. Dengan posisi ini, tanganku lebih bebas. Perlahan tangan kananku keletakkan di payudaranya. Aku remas perlahan. “Hmmm…” lenguhnya agak marah. Aku tarik tanganku, takut Lia marah atas kelakuanku. Setelah beberapa lama, aku beranikan lagi untuk menaruh tanganku kepayudaranya. Tiba-tiba tangan Lia mencengkaram tanganku yang ada di payudaranya. Aku takut sekali Lia marah, tapi ternyata……. Lia malah menekan tanganku supaya meremas payudaranya.

Atas “izinnya” itu aku mulai meremas-remas payudaranya dari luar kaosnya. Ciumanku tidak lepas selama aku meremas-remas payudara kiri dan kanan bergantian.

Aku memberanikan diri untuk memasukkan tanganku dari bawah kausnya. Sekarang tanganku meremas-remas payudaranya dari luar branya. Hmm… kenyal dan bulat sekali payudara yang tak pernah dijamah orang lain ini. Tak puas meremas dari luar bra, aku selipkan tanganku kedalam branya dan meremas langsung ke payudaranya. “Akh…Akh..Akh…” lenguh Lia saat aku mulai meremas-remas payudaranya.

“Sebentar yan…” lia bangkit, kemudian berusaha melepas kait branya yang berada dibelakang. Aku membantunya. Setelah terlepas, Lia kembali rebahan. Aku mengangkat kaus Lia sehingga terlihat bra longgar karena sudah terlepas kaitnya. Aku angkat juga bra itu maka terlihatnya payudara liat yang bulat itu. Pentilnya coklat bersih terlihat membesar.

Aku memberanikan diri untuk mengecup payudaranya. Lia cuma terseyum. Kemudian aku mulai menyedot pentil itu sambil meremas-remasnya. “Akhhh… Akh…Akh…” lenguhan Lia makin keras. Ditambah tubuhnya makin tegang. Setiap aku menyedot payudaranya, Lia membusungkan dadanya supaya bisa aku sedot. Cukup lama juga aku menyedot payudaranya, tubuh Lia mengejang-ngejang keenakan.

Nafsuku sudah naik diubun-ubun, aku sudah tidak tahan untuk menyetubuhinya, tapi aku berusaha menahan, Lia masih perawan.

Bosan dengan menyedot-nyedot payudaranya, aku naik keatas untuk mencium bibirnya. Tangan Lia menuntun tanganku untuk meremas kembali payudaranya.

Kali ini aku menggesek-gesekkan penisku yang masih ada didalam celana ke selangkangannya. Roknya tersingkap karena dia membuka pahanya lebar, gesekan penisku langsung ke celana dalamnya yang sudah mulai basah itu. Gesekan penisku mendapat respon, Lia ikut menggoyang pinggulnya sehingga gesekan kami makin hebat. Sebenarnya kalau dilihat gerakan kami sudah seperti orang yang bersetubuh, cuma bedanya kami masih memakai pakaian lengkap, cuma kaos Lia yang terangkat karena aku meremas payudaranya langsung.

Aku membuka kancing celanaku, membuka reslting dan mengeluarkan penisku. Setelah penisku keluar, aku menusuk-nusukkan penisku ke celana dalamnya yang basah itu. Kalau celana dalam itu tidak ada, pasti penisku sudah menerobos lobang vagina perawan Lia.

Dengan gerakan tusuk-tusuk itu, Lia makin mengelinjang. Aku sudah tidak mencium bibirnya, dia lebih memilih menggerak-gerakkan kepalanya sesuai goyangan selangkangannya sambil mengeluarkan suara-suara lenguhan “Ahh.. Ahh.. Ah…”. Aku makin tidak tahan, aku meraba selangkangannya dari luar celana dalamnya. Hmmm.. basah sekali disitu.

Aku nekat, aku menarik pinggir celana dalamnya sehingga vaginanya terbuka lebar, Aku gesekkan penisku ke belahan vagina Lia, “Akhhhhh.. Akh… Akhh..” Lia makin mengelinjang. Aku coba menusuk penis kevaginanya sedikit keras.

“Aduh !!!” teriak Lia dan tangannya mendarat dipipiku “Plak !!”. Lia mendorong tubuhku kuat-kuat.

“Rian kamu jahat !!!” pekiknya kemudian mulai menangis.

“Maafin aku Lia, aku kira kamu juga mau” kilahku.

“Rian jahat, kita harusnya gak boleh melakukan ini” katanya sambil menangis.

“Maafin aku Lia, aku khilaf. Aku terbawa nafsu” jawabku.

Lia menutup mukanya sambil menangis. Hmmn…. aku menarik nafas menyesal. Aku duduk disebelahnya mencoba untuk mengelus kepalanya, tapi tanganku ditepis. Akhirnya aku hanya duduk terdiam.

Setelah beberapa lama, tangis Lia mereda, dia mulai membenahi bra dan pakaiannya, kemudian berkata “Ayo kita pulang..”. Dia mengatakan itu dengan muka marah. Aku yang dibebani rasa bersalah mulai berkemas.

Sepanjang perjalanan Lia hanya terdiam dengan wajah muram sedikit marah. Akupun terdiam takut memancing kemarahan Lia lebih besar.

—————————————————————–

Di puncak pass, aku berhenti.

“Lia, kita makan dulu ya, dari tadi kita belum makan” ajakku ke Lia. Tapi Lia hanya membuang muka kepadaku. Akhirnya aku keluar mobil untuk membeli makanan kecil dan minuman.

“Lia, aku minta maaf soal tadi siang. maaf ya…. Sekarang please makan dulu ya, kita belum makan dari tadi siang” kataku ke Lia. Lia hanya terdiam.

Aku bukakan makanan dan aku taruh di depannya. Aku tidak mau memaksa, takut Lia tambah marah. Aku memakan makananku sampai habis… aku lapar sekali.

“Lia…. aku bener-bener minta maaf, please maafin aku ya” kataku. Lia memandangku tajam. “Maaf ya…” ulangku. Lia menghela nafas, kemudian berkata kecil “Iya aku maafin……”. Aku terseyum kecil agak dipaksakan, kemudian aku pegang tangannya dan berkata lagi. “Aku nyesel banget, maafin aku ya udah kurang ajar sama kamu. Sekarang aku mohon kamu makan dulu ya” kataku.
Lia cuma tersenyum kecil sambil menggenggam tanganku. Kemudian dia mulai memakan makanannya.

Selesai makan dan minum, Lia terdiam lagi merenung. Aku sungguh merasa tidak enak. “Lia, ada masalah lagi ?” tanyaku. Lia menggigit bibir bawahnya sambil menatapku. Tangannya ditekuk menutupi dadanya. Kemudian dia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berkata pelan..

“Rian, aku mau yang kayak tadi siang lagi….”

Aku sungguh terkejut. “Apa ???” tanyaku tercengang.

“Ya udah kalo gak mau” katanya ketus kemudian membalik badan membelakangiku.

Aku shock, terdiam, kemudian menstater mobilku. Aku mengarahkan mobilku ke hotel yang ada didekat situ.

Selama mendaftar untuk check in sampai kamar tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami berdua. Setelah pintu kututup, kami langsung berpelukan dengan erat.

“Lia, sebenarnya aku sayang banget sama kamu” kataku di telinganya.

“Aku juga sayang kamu Rian” jawabnya lemah.

Aku mengecup bibirnya, Lia membalas ciumanku. Tanpa canggung kali ini. Ciuman kami makin panas, ditambah aku juga meremas-remas payudaranya. “Hmnmm.. Hmmm..” lenguh Lia tertahan.

Aku mengangkat tubuh lia dan aku rebahkan ditempat tidur. Posisi kami sama seperti waktu di sofa, Lia terlentang dengan paha terbuka dan aku menindih diatasnya. Ciuman kami teruskan. Aku mencoba melepas kait bra, tapi Lia bertindak lebih. Lia membuka kausnya. Aku melepaskan kait branya saat lia melengkungkan tubuhnya keatas, kemudia bra itu aku buang ke lantai.

Aku murai meremas-remas payudara Lia sambil menciuminya hebat. Kadang-kadang aku menjilati lehernya. Lia cuma melenguh saat aku memainkan pentil payudaranya.

Lia berusaha membuka kausku, aku bantu dia dan membuang kaus itu ke lantai. Sekarang kami sudah setengan telanjang. Aku menciumi Lia lagi, sekarang kami sudah kontak kulit langsung dibagian atas tubuh.

Aku mulai menyedot-nyedot payudaranya. “Agh,.. agh…. aghk…” lenguhnya merespon sedotanku. Nafsuku sudah pol keubun-ubun, aku mencoba membuka rok yang menggangu itu. Lia membantu dengan mengangkat pinggulnya. Saat menurunkan rok itu, aku sekalian menurunkan celana dalamnya. Aku berdebar, takut Lia marah lagi. Tapi dia tersenyum, Hmm… dia tersenyum dengan keadaan bugil !

Aku naik keatas untuk menciumnya lagi, tapi ternyata Lia lebih tertarik untuk membuka kancing celanaku. “Yan buka dong, masa aku aja” katanya. Aku berdiri dan melepaskan celana panjang dan celana dalamku.

Saat aku kembali Lia terlentang dengan mengatupkan pahanya. Aku berusaha membuka pahanya, dia malah tertawa. “Mau apa ?” katanya menggoda. “he..he..he..” tawaku, tapi akhirnya dia membuka pahanya juga. Kemudian aku menempatkan diri diantara kedua paha itu.

Kemudian aku menggesek-gesekkan penisku dipermukaan vaginanya. “ehhh…ehh…” lenguh tertahan Lia pelan.

“Lia… aku masukin ya..” pintaku lembut. Lia cuma mengangguk kecil sambil menggigit bibir bawahnya. “Nanti agak sakit kayak ta